Senin, 22 Desember 2014

Pendekatan Keterampilan Proses (Bagian I)



A. Apa itu Keterampilan Proses ?
Pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar merupakan proses  interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Belajar IPA bukan hanya memahami konsep-konsep ilmiah dan aplikasinya, melainkan juga untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang meliputi pengetahuan (konsep), skill (keterampilan) dan nilai (sikap). Sehingga dengan kompetensi  tersebut  siswa akan mampu mengikiti perkembangan, baik saat ini ataupun masa yang akan datang. Untuk itu dengan pembelajaran IPA yang benar, sejak dini siswa akan berperilaku sebagai peserta didik yang progresif dalam menginternalisasikan pengalaman belajarnya, yang pada gilirannya kelak akan memberdayakan mereka terampil menggunakan pengetahuan dan keterampilan ilmiahnya dalam menjelaskan dan memecahkan masalah yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari.  Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Cain dan Evans dalam Rustaman et al., (2003) IPA bukan hanya kumpulan produk berupa pengetahuan, fakta dan informasi, namun IPA juga memiliki tiga dimensi lain, yaitu proses atau metode ilmiah, sikap, dan teknologi. IPA sebagai proses atau metode ilmiah mengandung arti bahwa untuk memperoleh pengetahuan tentang alam semesta diperlukan suatu proses yang harus dijalani.
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, maka penerapan pembelajaran IPA di kelas diharapkan mengacu pada pengembangan keterampilan proses siswa. Menurut  Karso,dkk., (1993) keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA. Pendekatan keterampilan proses didasarkan pada cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai, serta keterampilan. Lebih lanjut Ulfa (2007) mendefinisikan ketrampilan proses adalah suatu pendekatan yang menekankan pada fakta dan konsep, yang digunakan dalam pembelajaran IPA dalam menguji suatu hal yang didasarkan pada langkah kegiatan dalam menguji sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh para ilmuan pada waktu membangun atau membuktikan suatu teori. Jadi, dalam hal ini terlihat bahwa keterampilan proses merupakan suatu kegiatan menyelesaikan suatu permasalahan melalui penemuan (inquiry).
            Selanjutnya Bardi (1996) mengemukakan bahwa : keterampilan proses adalah wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang ada prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Kemampuan-kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan melakukan pengamatan, menggolongkan/mengklasifikasikan hasil pengamatan, menafsirkan, meramalkan (memprediksi), menerapkan konsep, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil penelitian.
Pendekatan keterampilan proses pada pembelajaran IPA lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya. Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA yang beranggapan bahwa IPA itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang juga harus dikembangkan pada peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang dapat digunakan sebagai bekal perkembangan diri selanjutnya” (Memes dalam Subagyo, 2006)
Dalam proses belajar mengajar melalui Pendekatan Keterampilan Proses, siswa adalah sebagai objek yang bersifat sentral, dalam arti mereka berupaya mencari jawaban dari masalah yang dihadapinya. Pada saat siswa dilibatkan secara aktif dalam berbagai aktivitas belajar, maka siswa akan merasa puas dan senang, karena siswa tersebut mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Hal ini dapat memberi dampak dalam memacu minat, perhatian dan daya pendorong, timbulnya rasa ingin tahu pada diri siswa, yang pada gilirannya siswa akan belajar dengan penuh semangat, aktif dan optimis, sehingga dalam mempelajari IPA siswa tidak lagi merasa bosan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pendekatan keterampilan proses menuntut adanya keterlibatan fisik dan mental intelektual siswa. Hal ini dapat digunakan untuk melatih dan mengembangkan keterampilan intelektual atau kemampuan berfikir siswa. Selain itu juga mengembangkan sikap-sikap ilmiah dan kemampuan siswa untuk menemukan dan mengembangkan fakta, konsep, dan prinsip ilmu atau pengetahuan.


B. Mengapa harus Keterampilan Proses ?
Menurut Djamarah dan  Bahri (2000) Keterampilan proses bertujuan untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam belajar, siswa secara aktif dapat mengembangkan dan menerapkan kemampuannya dengan terampil. Keterampilan proses bertolak pada kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sesuai dengan apa yang terkandung pada pribadi siswa. Dalam menerapkan keterampilan proses dasar IPA,  ada dua alasan yang melandasinya sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali M (2008) yaitu:
a.      Bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua konsep dan fakta kepada siswa. Jika guru tetap mengajarkan semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak mugkin tercapai. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber dan tidak semata-mata dari guru.
b.      Bahwa IPA itu dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses. Dengan melihat alasan ini, betapa pentingnya keterampilan proses bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi siswa di masa yang akan datang, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.
Selanjutnya (Semiawan dalam Ali, 2006) menyatakan bahwa ada empat alasan mengapa pendekatan keterampilan proses harus diwujudkan dalam pembelajaran IPA, yaitu :
a.      Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Karena terdesak waktu untuk mengejar ketercapaian kurikulum, maka guru akan memilih jalan yang termudah yakni menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah. Akibatnya para siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan konsep, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
b.      Anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan menyerahkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
c.      Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif tetapi masih terbuka untuk diperbaiki.
d.      Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari    pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.
Lebih lanjut Karso, dkk. (1993:189) mengajukan beberapa alasan perlunya pendekatan keterampilan proses diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar (khususnya) pada pendidikan dasar, sebagai berikut.
a.    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat, sehingga guru akan mengalami kesulitan jika harus mengajarkan semua fakta dan konsep  kepada siswa.
b.    Dengan keterampilan proses mereka dapat menemukan sendiri konsep-konsep dari berbagai sumber belajar melalui latihan-latihan yang berkualitas dan terencana dengan baik.
c.    Secara psikologis siswa pada pendidikan dasar akan dengan mudah memahami konsep-konsep yang abstrak dan rumit jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, memulai dengan konsep yang telah mereka miliki sebelumnya, dan berlangsung wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
d.    Pemahaman siswa yang didapat melalui keterampilan proses akan lebih ber-makna dan dapat mengingat lebih lama, lebih lebih  jika mereka mendapat kesempatan mempraktekkan sendiri, melakukan penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik dan penanganan benda-benda.
e.    Siswa perlu dilatih dan dirangsang untuk selalu bertanya, berpikir kritis-objektif, serta terbiasa mengupayakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah.




Daftar Pustaka

Djamarah, S.B. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Renika Cipta

Karli, Yuliariatiningsih. (2002).. Model-Model Pembelajaran IPA SD, Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Bina Media Informasi.

Karso, dkk. 1993. Materi Pokok Dasar-dasar Pendidikan MIPA PGSN 3114,. Modul 1-6. Jakarta. Depdikbud .

Nuryani Rustamam (1995). Pengembangan Keterampilan Butir Soal Ketrampilan Proses Sains. Materi Penyuluhan disampaikan Kepada Guru-guru dalam Rangka Pengabdian pada Masyarakat. Jurusan Biologi IKIP Bandung : tidak diterbitkan

Ulfa, Maria (2007). Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Surabaya : SIC

M. Ali dan M. Asrori. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Subagyo (2006), Pembelajaran Sains dengan Pendekatan Keterampilan Proses untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa, Universitas Negeri Semarang. (http://www.google.com, diakses 20 Februari 2009)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar