A. Apa itu Keterampilan Proses ?
Pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar merupakan
proses interaksi antara siswa dengan
lingkungannya. Belajar IPA bukan hanya memahami konsep-konsep ilmiah dan
aplikasinya, melainkan juga untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang
meliputi pengetahuan (konsep), skill (keterampilan) dan nilai (sikap). Sehingga
dengan kompetensi tersebut siswa akan mampu mengikiti perkembangan, baik
saat ini ataupun masa yang akan datang. Untuk itu dengan pembelajaran IPA yang
benar, sejak dini siswa akan berperilaku sebagai peserta didik yang progresif
dalam menginternalisasikan pengalaman belajarnya, yang pada gilirannya kelak
akan memberdayakan mereka terampil menggunakan pengetahuan dan keterampilan
ilmiahnya dalam menjelaskan dan memecahkan masalah yang ditemukannya dalam
kehidupan sehari-hari. Hal tersebut
sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Cain dan Evans dalam Rustaman et al.,
(2003) IPA bukan hanya kumpulan produk berupa pengetahuan, fakta dan informasi,
namun IPA juga memiliki tiga dimensi lain, yaitu proses atau metode ilmiah,
sikap, dan teknologi. IPA sebagai proses atau metode ilmiah mengandung arti
bahwa untuk memperoleh pengetahuan tentang alam semesta diperlukan suatu proses
yang harus dijalani.
Bertitik tolak dari
penjelasan di atas, maka penerapan pembelajaran IPA di kelas diharapkan mengacu
pada pengembangan keterampilan proses siswa. Menurut Karso,dkk., (1993) keterampilan proses
merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA.
Pendekatan keterampilan proses didasarkan pada cara memandang anak didik
sebagai manusia seutuhnya yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar
mengajar dengan memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai, serta
keterampilan. Lebih lanjut Ulfa (2007) mendefinisikan ketrampilan proses adalah
suatu pendekatan yang menekankan pada fakta dan konsep, yang digunakan dalam
pembelajaran IPA dalam menguji suatu hal yang didasarkan pada langkah kegiatan
dalam menguji sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh para ilmuan pada waktu
membangun atau membuktikan suatu teori. Jadi, dalam hal ini terlihat bahwa
keterampilan proses merupakan suatu kegiatan menyelesaikan suatu permasalahan
melalui penemuan (inquiry).
Selanjutnya Bardi (1996) mengemukakan bahwa : keterampilan proses
adalah wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual,
sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang ada
prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Kemampuan-kemampuan yang dimaksud adalah
kemampuan melakukan pengamatan, menggolongkan/mengklasifikasikan hasil
pengamatan, menafsirkan, meramalkan (memprediksi), menerapkan konsep,
merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil penelitian.
Pendekatan keterampilan proses pada
pembelajaran IPA lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh
pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya. ”Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pendekatan
dalam pembelajaran IPA yang
beranggapan bahwa IPA itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah
yang juga harus dikembangkan pada peserta didik sebagai pengalaman yang
bermakna yang dapat digunakan sebagai bekal perkembangan diri selanjutnya” (Memes
dalam Subagyo, 2006)
Dalam proses belajar mengajar melalui Pendekatan
Keterampilan Proses, siswa adalah sebagai objek yang bersifat sentral, dalam
arti mereka berupaya mencari jawaban dari masalah yang dihadapinya. Pada saat
siswa dilibatkan secara aktif dalam berbagai aktivitas belajar, maka siswa akan
merasa puas dan senang, karena siswa tersebut mampu menyelesaikan persoalan
yang dihadapinya. Hal ini dapat memberi dampak dalam memacu minat, perhatian
dan daya pendorong, timbulnya rasa ingin tahu pada diri siswa, yang pada
gilirannya siswa akan belajar dengan penuh semangat, aktif dan optimis, sehingga
dalam mempelajari IPA siswa tidak lagi merasa bosan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
dengan penerapan pendekatan keterampilan proses menuntut adanya keterlibatan
fisik dan mental intelektual siswa. Hal ini dapat digunakan untuk melatih dan
mengembangkan keterampilan intelektual atau kemampuan berfikir siswa. Selain
itu juga mengembangkan sikap-sikap ilmiah dan kemampuan siswa untuk menemukan
dan mengembangkan fakta, konsep, dan prinsip ilmu atau pengetahuan.
B. Mengapa harus Keterampilan Proses ?
Menurut Djamarah dan
Bahri (2000) Keterampilan proses bertujuan untuk mengembangkan
kreativitas siswa dalam belajar, siswa secara aktif dapat mengembangkan dan
menerapkan kemampuannya dengan terampil. Keterampilan proses bertolak pada
kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sesuai dengan apa yang
terkandung pada pribadi siswa. Dalam menerapkan
keterampilan proses dasar IPA, ada dua
alasan yang melandasinya sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali M (2008) yaitu:
a. Bahwa
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi
pesat pula, sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua konsep dan fakta
kepada siswa. Jika guru tetap mengajarkan semua fakta dan konsep dari
berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak mugkin tercapai. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali dengan keterampilan
untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber dan tidak semata-mata
dari guru.
b. Bahwa IPA itu dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi
produk dan dimensi proses. Dengan melihat alasan ini, betapa pentingnya
keterampilan proses bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi
siswa di masa yang akan datang, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan
bangsa yang maju lainnya.
Selanjutnya (Semiawan dalam Ali, 2006) menyatakan bahwa
ada empat alasan mengapa pendekatan keterampilan proses harus diwujudkan dalam
pembelajaran IPA, yaitu :
a. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat
sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada
siswa. Karena terdesak waktu
untuk mengejar ketercapaian kurikulum, maka guru akan
memilih jalan yang termudah yakni menginformasikan fakta dan konsep melalui
metode ceramah. Akibatnya para siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan konsep, tidak
dilatih untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan.
b. Anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan
abstrak jika disertai dengan
contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan
situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan menyerahkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap
kenyataan fisik, melalui penanganan
benda-benda yang benar-benar nyata.
c. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar
seratus persen, penemuannya bersifat relatif tetapi masih terbuka untuk
diperbaiki.
d.
Dalam
proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak
didik.
Lebih lanjut Karso, dkk. (1993:189) mengajukan beberapa alasan
perlunya pendekatan keterampilan proses diterapkan dalam kegiatan
belajar-mengajar (khususnya) pada pendidikan dasar, sebagai berikut.
a. Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat, sehingga guru akan
mengalami kesulitan jika harus mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.
b. Dengan
keterampilan proses mereka dapat menemukan sendiri konsep-konsep dari berbagai
sumber belajar melalui latihan-latihan yang berkualitas dan terencana dengan
baik.
c. Secara
psikologis siswa pada pendidikan dasar akan dengan mudah memahami konsep-konsep
yang abstrak dan rumit jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, memulai
dengan konsep yang telah mereka miliki sebelumnya, dan berlangsung wajar sesuai
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
d. Pemahaman
siswa yang didapat melalui keterampilan proses akan lebih ber-makna dan dapat
mengingat lebih lama, lebih lebih jika
mereka mendapat kesempatan mempraktekkan sendiri, melakukan penemuan konsep
melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik dan penanganan benda-benda.
e. Siswa
perlu dilatih dan dirangsang untuk selalu bertanya, berpikir kritis-objektif,
serta terbiasa mengupayakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap sesuatu
masalah.
Daftar Pustaka
Djamarah, S.B. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta:
Renika Cipta
Karli, Yuliariatiningsih. (2002).. Model-Model Pembelajaran IPA SD,
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Bina Media Informasi.
Karso,
dkk.
1993.
Materi Pokok Dasar-dasar Pendidikan MIPA
PGSN 3114,. Modul 1-6. Jakarta. Depdikbud .
Nuryani
Rustamam (1995). Pengembangan Keterampilan
Butir Soal Ketrampilan Proses Sains. Materi Penyuluhan disampaikan Kepada
Guru-guru dalam Rangka Pengabdian pada Masyarakat. Jurusan Biologi IKIP Bandung
: tidak diterbitkan
Ulfa,
Maria (2007). Penerapan Keterampilan
Proses dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Surabaya : SIC
M. Ali dan M. Asrori. 2006. Psikologi Remaja.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Subagyo (2006), Pembelajaran Sains dengan Pendekatan Keterampilan Proses
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,
Universitas Negeri Semarang.
(http://www.google.com, diakses 20 Februari 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar